Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat dan melestarikan kekayaan budaya lokal. Hal ini ditegaskan dalam agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung di Kota Solo. Melalui forum bergengsi tersebut, Pemkot Pekalongan menegaskan pentingnya pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya sebagai identitas daerah sekaligus aset bangsa.
Rakernas JKPI merupakan ajang strategis yang mempertemukan kota-kota pusaka dari seluruh Indonesia. Forum ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antar daerah dalam upaya pelestarian warisan budaya, baik berupa bangunan bersejarah, tradisi, seni, hingga kearifan lokal lainnya. Dalam kesempatan itu, Kota Pekalongan hadir sebagai salah satu anggota aktif yang memiliki warisan budaya kaya, terutama yang terkait dengan batik sebagai identitas budaya nasional.
Wali Kota Pekalongan: Budaya Adalah Akar Peradaban
Wali Kota Pekalongan, melalui perwakilannya, menyampaikan bahwa keberadaan budaya lokal bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga fondasi penting untuk membangun masa depan. Menurutnya, pelestarian budaya harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan berkelanjutan.
“Pekalongan tidak hanya dikenal sebagai kota batik, tetapi juga sebagai kota yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Melalui JKPI, kami ingin menguatkan posisi budaya sebagai penggerak pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar perwakilan Pemkot dalam forum tersebut.
Baca juga: DPRD dan Bupati Setujui Raperda untuk Meningkatkan Daya Tarik Investor ke Kabupaten Batang
Langkah Nyata Pelestarian Budaya di Pekalongan
Komitmen Pemkot Pekalongan dalam pelestarian budaya diwujudkan dalam berbagai program konkret. Beberapa di antaranya meliputi:
-
Revitalisasi kawasan pusaka dan cagar budaya, termasuk penataan kawasan kota tua dan peninggalan sejarah kolonial.
-
Penguatan pendidikan budaya melalui kurikulum muatan lokal di sekolah, seperti sejarah batik dan kesenian daerah.
-
Penyelenggaraan festival budaya secara rutin, seperti Festival Batik Pekalongan dan Pekan Budaya Jawa Tengah.
-
Pemberdayaan komunitas seni dan budaya lokal, termasuk pembinaan terhadap pelaku seni tradisional dan UMKM batik.
Semua langkah ini tak hanya bertujuan menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Kolaborasi Antar Kota Pusaka untuk Masa Depan
Dalam forum JKPI, Kota Pekalongan juga mendorong adanya kerja sama antar kota pusaka untuk saling berbagi pengalaman dan strategi pelestarian budaya. Kolaborasi ini penting agar tantangan pelestarian, seperti modernisasi, alih fungsi lahan, dan minimnya regenerasi pelaku budaya, bisa dihadapi bersama.
“Sinergi lintas daerah adalah kunci. Budaya tidak bisa dilestarikan sendiri-sendiri. Butuh jejaring, dukungan kebijakan, dan tentunya partisipasi aktif masyarakat,” tambah perwakilan Pemkot.
JKPI: Platform Strategis Lestarikan Warisan Budaya
JKPI sendiri telah menjadi motor penggerak pelestarian kota-kota pusaka di Indonesia sejak lama. Dengan keanggotaan dari puluhan kota, JKPI menjadi ruang diskusi, pertukaran gagasan, dan advokasi kebijakan pelestarian budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam Rakernas tahun ini, beberapa isu strategis turut dibahas, mulai dari upaya digitalisasi warisan budaya, strategi promosi wisata berbasis budaya, hingga tantangan pelestarian di era globalisasi.
Kesimpulan
Partisipasi aktif Pemkot Pekalongan dalam Rakernas JKPI membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan hanya jargon, melainkan sebuah langkah nyata. Dengan warisan batik dan kekayaan budaya lainnya, Pekalongan siap menjadi contoh kota yang mampu menjaga identitas sambil terus bergerak maju.





