pakalongan – Harga Rawit Cs Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,08% pada bulan Agustus 2025, menurut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Penurunan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor utama yang mendorong deflasi tersebut.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas pangan lain juga mengalami penurunan harga, termasuk bawang merah dan tomat.
Kepala BPS, Supari, menyatakan bahwa deflasi ini merupakan sinyal positif bagi kestabilan harga kebutuhan pokok.
“Deflasi 0,08% pada Agustus menunjukkan bahwa inflasi terkendali dan pasokan bahan pangan mulai membaik,” ujar Supari dalam konferensi pers di Jakarta.

Baca Juga : Sahroni dan Nafa Urbach Masih Tetap Dapat Gaji
Penurunan harga cabai rawit mencapai 15% dibandingkan bulan sebelumnya, setelah masa panen raya yang berlangsung di beberapa daerah sentra produksi.
Produksi cabai rawit di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara meningkat signifikan, sehingga stok melimpah di pasar.
Kondisi cuaca yang cukup mendukung turut membantu meningkatkan hasil panen dan menekan harga.
Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menstabilkan harga melalui operasi pasar juga dianggap efektif.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan melakukan intervensi dengan mendistribusikan cabai dari daerah surplus ke daerah defisit.
Selain cabai, bawang merah juga mengalami penurunan harga sekitar 7% akibat pasokan yang melimpah setelah panen besar.
Meski demikian, beberapa komoditas lain seperti daging sapi dan telur ayam justru mengalami kenaikan harga.
Namun, kenaikan tersebut tidak cukup besar untuk menutupi penurunan harga bahan pangan lain.
Dengan demikian, deflasi 0,08% ini dapat dianggap sebagai kondisi pasar yang sehat dan normal.
Ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Sulistiani, menilai deflasi kali ini bukan hal yang merisaukan.
“Deflasi dalam konteks ini lebih karena harga pangan yang turun, bukan akibat permintaan yang melemah,” kata Dr. Rini.
Kenaikan ini daya beli akan memicu konsumsi yang lebih besar, sehingga berpotensi menggerakkan perekonomian.
Namun ini pemerintah tetap waspada terhadap potensi gejolak harga di masa depan, terutama jelang musim kemarau.





